tebakskoreuro.com – Tottenham Hotspur lagi-lagi berada di persimpangan besar. Setelah pergantian pelatih yang tidak memberi dampak sesuai harapan, klub London Utara itu kini disebut sedang membidik Roberto De Zerbi sebagai pelatih permanen baru. Sejumlah laporan pada 30 Maret 2026 menyebut pembicaraan antara Spurs dan De Zerbi sudah bergerak cukup jauh, bahkan ada yang menggambarkannya sebagai kandidat utama, bukan sekadar salah satu nama dalam daftar. Situasinya terasa mendesak karena Tottenham sedang berjuang di papan bawah dan membutuhkan sosok yang bukan hanya bisa menyelamatkan musim, tetapi juga membentuk arah baru untuk musim berikutnya.
Kalau melihat konteksnya, ini bukan sekadar pencarian pelatih biasa. Tottenham disebut baru berpisah dengan Igor Tudor setelah masa jabatan yang sangat singkat, sementara performa tim masih jauh dari kata stabil. Klub berada sangat dekat dengan zona degradasi, dan kondisi ini membuat keputusan soal pelatih menjadi sangat sensitif. Dalam situasi seperti ini, memilih De Zerbi berarti Tottenham tidak hanya mencari “pemadam kebakaran”, tetapi mencoba menemukan pelatih dengan identitas taktik yang jelas untuk proyek yang lebih panjang.

Mengapa Nama Roberto De Zerbi Muncul?
Nama Roberto De Zerbi tentu bukan nama sembarangan. Dalam beberapa tahun terakhir, ia dikenal sebagai pelatih yang punya filosofi permainan kuat, terutama soal build-up dari belakang, keberanian menguasai bola di area sempit, dan kemampuan membuat tim bermain agresif secara terstruktur. Saat menangani Brighton, ia mendapat banyak pujian karena mampu mempertahankan identitas menyerang sambil tetap membuat tim terlihat modern dan berani. Setelah itu, ia juga sempat bekerja di Marseille sebelum meninggalkan klub tersebut pada Februari 2026.
Buat Tottenham, profil seperti ini terasa menarik. Spurs adalah klub yang secara historis selalu lebih disukai ketika bermain berani, progresif, dan enak ditonton. Masalahnya, identitas itu beberapa kali terputus karena pergantian arah. Ada masa ketika Tottenham mencoba pendekatan pragmatis, lalu bergeser lagi, lalu berubah lagi. Akibatnya, skuad seperti tidak pernah benar-benar dibangun untuk satu ide utama. De Zerbi menawarkan sesuatu yang spesifik: gaya main yang jelas, struktur yang tegas, dan keberanian memaksakan identitas. Dalam dunia sepak bola modern, itu sangat penting, apalagi untuk klub yang ingin membangun ulang kepercayaan diri tim dan suporter.
Bukan Sekadar Target, Tapi Kandidat Terdepan
Yang membuat kabar ini menarik adalah nada dari berbagai laporan yang cukup seragam. Ada sumber yang menyebut De Zerbi kini menjadi satu-satunya kandidat yang benar-benar dipertimbangkan secara serius. Ada juga laporan bahwa Tottenham sedang mendorong keras agar ia mau mengambil pekerjaan itu sekarang, bukan menunggu sampai musim panas. Bahkan pembahasan tentang staf pelatih juga disebut sudah ikut dibicarakan. Itu biasanya jadi pertanda bahwa negosiasi sudah masuk tahap yang lebih konkret daripada sekadar penjajakan awal.
Namun, tetap penting untuk melihat ini sebagai proses yang belum resmi tuntas. Sampai ada pengumuman klub, semuanya masih berada di ranah laporan media. Meski begitu, arah ceritanya cukup jelas: Tottenham ingin De Zerbi, dan De Zerbi yang sebelumnya disebut enggan kembali melatih di tengah musim kini dilaporkan mulai terbuka dengan kemungkinan itu. Ada indikasi bahwa Spurs menawarinya kontrak jangka panjang, lengkap dengan detail insentif yang disesuaikan dengan situasi klub saat ini.
Tantangan Besarnya: Datang di Saat Klub Sedang Goyang
Masalah terbesar dalam skenario ini justru bukan kualitas De Zerbi, melainkan timing-nya. Tottenham sedang tidak berada dalam kondisi ideal untuk menyambut pelatih dengan filosofi kompleks. Tim disebut hanya berjarak satu poin dari zona degradasi, dan sisa pertandingan musim ini sangat krusial. Dalam kondisi seperti itu, biasanya klub memilih pelatih yang praktis, sederhana, dan fokus ke hasil instan. De Zerbi justru terkenal dengan pendekatan yang menuntut pemahaman taktik tinggi dan waktu latihan yang cukup untuk bekerja maksimal.
Inilah sisi paling dramatis dari kabar tersebut. Kalau De Zerbi benar datang sekarang, ia tidak akan masuk ke ruang kerja yang tenang. Ia masuk ke ruang yang penuh tekanan, penuh tuntutan, dan nyaris tanpa masa adaptasi. Ia harus cepat menilai skuad, membaca mental pemain, lalu memutuskan hal-hal penting dalam hitungan hari. Secara teori, ini bukan panggung terbaik untuk pelatih yang ingin membangun sistem detail. Tapi di sisi lain, kalau ia berhasil membawa Tottenham keluar dari situasi sulit, maka legitimasi dan pengaruhnya sejak hari pertama akan sangat besar.
Apa yang Bisa Dibawa De Zerbi ke Tottenham?
Secara taktik, De Zerbi bisa memberi Tottenham fondasi yang lebih jelas. Tim asuhannya biasanya berani memainkan bola dari belakang, mengundang tekanan lawan, lalu memecah pressing dengan kombinasi cepat dan posisi yang rapi. Ini adalah pendekatan yang berisiko, tetapi juga bisa sangat efektif kalau pemain memahami peran masing-masing. Tottenham yang selama ini terlihat goyah dalam transisi dan kurang stabil dalam kontrol permainan mungkin melihat De Zerbi sebagai jalan untuk memperbaiki struktur itu dari akar.
Selain taktik, De Zerbi juga membawa aura pelatih yang punya keyakinan kuat terhadap idenya. Kadang itu penting untuk tim yang sedang kehilangan arah. Klub seperti Tottenham butuh pelatih yang datang dengan keberanian, bukan keraguan. Mereka butuh figur yang bisa berkata, “ini cara kita bermain,” lalu benar-benar menuntut tim mengikuti arah tersebut. Tidak semua pelatih bisa memberi rasa kepastian seperti itu. De Zerbi, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, punya karakter tersebut.
Tapi Risikonya Juga Nyata
Tetap saja, mengejar De Zerbi bukan tanpa risiko. Beberapa laporan menyinggung bahwa ia pernah punya awal yang lambat di klub-klub sebelumnya. Untuk tim yang sedang berjuang menjauh dari degradasi, start lambat bisa sangat berbahaya. Selain itu, ada pula faktor kontroversi di luar lapangan yang disebut memicu keberatan dari sebagian kelompok suporter Spurs. Jadi, kalau Tottenham benar-benar melangkah ke arah ini, klub harus siap menghadapi bukan cuma pertanyaan soal hasil, tetapi juga soal penerimaan publik.